Mewarisi Semangat Pahlawan, Menata Kemandirian Umat Melalui Wakaf Uang

“Mewarisi Semangat Pahlawan, Menata Kemandirian Umat Melalui Wakaf Uang”
Oleh: H. Ayep Zaki, Pegiat Wakaf Uang dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, Founder Doa Bangsa & Inisiator Dana Abadi Daerah Berbasis Wakaf Uang

Hari Pahlawan setiap tahun bukan sekadar peringatan. Ia adalah cermin yang mengingatkan kita bahwa negeri ini berdiri bukan hanya karena senjata, melainkan terutama karena keyakinan dan pengorbanan. Pahlawan tidak pernah bekerja untuk dirinya. Mereka bekerja untuk masa depan. Untuk anak-anak yang belum mereka lihat, untuk kota-kota yang belum terbangun, untuk kebahagiaan yang belum mereka rasakan. Semangat itu berdiri di atas satu pondasi: keikhlasan.

Hari ini, tantangan bangsa tidak lagi berupa penjajahan fisik. Tantangan kita adalah kemiskinan yang mengikat, ketergantungan yang melemahkan, dan hilangnya kendali atas sumber-sumber ekonomi. Di banyak daerah, masyarakat masih terjebak dalam kebutuhan harian yang menekan, sehingga tidak memiliki ruang untuk membangun masa depan. Pada titik inilah, wakaf uang menjadi jalan perjuangan.

Wakaf uang bukan sekadar sedekah atau donasi. Ia adalah pembebasan. Sebab ia tidak habis dalam sekali berbelanja. Ia dikelola, diinvestasikan secara syariah, dan hasilnya terus mengalir untuk memberdayakan. Dengan wakaf uang, kita menghidupkan model kemandirian. Kita tidak memberi ikan, tetapi memberikan kail, perahu, jala, sekaligus memastikan sungainya tetap mengalir.

Saya telah menyaksikan ini secara nyata. Di kampung-kampung kecil di Sukabumi, UMK yang sebelumnya terhenti karena modal terbatas kini bisa bergerak kembali melalui skema Qardhul Hasan—pembiayaan tanpa bunga, tanpa tekanan, tanpa eksploitasi. Ketika seorang ibu bisa kembali membuat kue untuk dijual, ketika seorang pemuda bisa membuka bengkel kecil, ketika seorang ayah kembali percaya dirinya karena bisa memberi nafkah, di situ kita melihat pahlawan baru lahir. Pahlawan yang sederhana, mungkin tanpa seremoni, tetapi sangat nyata.

Mereka adalah pahlawan ekonomi keluarga. Dan wakaf uang adalah pintu yang membukanya.

Momen Hari Pahlawan 2025 ini mengingatkan kita bahwa bangsa besar tidak dibangun oleh satu tokoh saja. Ia dibangun oleh jutaan tangan kecil yang bergerak bersama. Dahulu rakyat menyumbangkan tenaga dan harta untuk kemerdekaan. Hari ini, kita dapat menyumbangkan sebagian kecil penghasilan untuk membangun kemandirian ekonomi umat.

Wakaf uang tidak memerlukan kaya sebagai syarat. Ia hanya membutuhkan niat yang tulus dan kepedulian yang hidup. Seribu rupiah sekalipun, jika konsisten, dapat menjadi benih yang tumbuh menjadi pohon peneduh ekonomi masyarakat.

Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya. Yang kita butuhkan adalah cara baru dalam mengelola kebersamaan. Wakaf uang adalah sistem yang memungkinkan keberlanjutan, bukan hanya kebaikan sesaat. Ia bukan wacana. Ia sudah berjalan. Ia bisa diperluas. Ia dapat menjadi fondasi Dana Abadi Umat yang menopang pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan usaha.

Hari Pahlawan 2025 mestinya menjadi seruan:
Jadilah pahlawan pada zamanmu.
Jika para pendahulu berkorban dengan darah dan nyawa, maka pengorbanan kita hari ini jauh lebih sederhana, namun tidak kalah mulia: menjaga martabat ekonomi rakyat.

Wakaf uang bukan hanya instrumen finansial. Ia adalah cara kita merawat bangsa.
Ia adalah janji kepada para pahlawan: bahwa kemerdekaan ini tidak akan disia-siakan.
Bahwa kita akan melanjutkan perjuangan mereka, dengan cara yang relevan untuk zaman ini.

Mari bersama kita menata kemandirian.
Mari menjadi pahlawan yang menumbuhkan kehidupan.
Sebab Indonesia yang kuat hanya bisa lahir dari rakyat yang berdaya.
Dan rakyat yang berdaya lahir dari sistem ekonomi yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada manusia.

Wakaf uang adalah jalannya.
Kita hanya perlu melangkah.

Nazhir Doa Bangsa

Penulis di Nazhirdoabangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *