Hari Ibu dan Wakaf: Dua Makna Pengabdian yang Berkelanjutan
Oleh:
H. Ayep Zaki
Praktisi Wakaf dan Pegiat Ekonomi Keumatan
Hari Ibu kerap dimaknai sebagai momentum penghormatan atas jasa, kasih sayang, dan pengorbanan seorang ibu. Namun, di balik ungkapan emosional dan seremonial, Hari Ibu sesungguhnya menyimpan makna yang jauh lebih dalam: tentang ketulusan memberi, keberlanjutan pengabdian, dan orientasi pada masa depan generasi. Nilai-nilai inilah yang memiliki korelasi kuat dengan konsep wakaf dalam Islam dan tradisi filantropi kemanusiaan.
Ibu dan Spirit Memberi Tanpa Pamrih
Seorang ibu memberi tanpa menunggu imbalan. Sejak dalam kandungan hingga anak tumbuh dewasa, pengorbanan ibu berlangsung terus-menerus, sering kali tak terlihat dan tak tercatat. Ia tidak hanya memberi materi, tetapi juga waktu, tenaga, doa, dan cinta—sebuah pemberian yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Wakaf pun bekerja dengan spirit yang sama. Wakaf bukan sekadar sedekah sesaat, melainkan pemberian yang diniatkan untuk kemanfaatan jangka panjang. Harta yang diwakafkan “ditahan” pokoknya agar manfaatnya terus mengalir bagi umat. Seperti kasih ibu, wakaf tidak berhenti pada satu momen, tetapi terus hidup dan memberi.
Keberlanjutan sebagai Nilai Utama
Hari Ibu mengajarkan bahwa keberhasilan pengorbanan ibu tidak selalu langsung tampak. Ia percaya bahwa investasi nilai, pendidikan, dan akhlak akan berbuah di masa depan. Dalam konteks inilah wakaf menemukan relevansinya. Wakaf adalah instrumen keberlanjutan sosial-ekonomi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan lintas generasi.
Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa wakaf telah menopang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelayanan sosial selama berabad-abad. Universitas, rumah sakit, hingga jaringan air bersih lahir dari wakaf—sebuah bukti bahwa pemberian yang dikelola dengan visi jangka panjang mampu membangun peradaban.
Perempuan dan Wakaf: Peran yang Sering Terlupakan
Menariknya, dalam sejarah wakaf, perempuan—termasuk para ibu—memegang peran penting. Banyak wakaf besar lahir dari tangan perempuan: untuk pendidikan anak-anak, kesejahteraan fakir miskin, dan penguatan komunitas. Ini menunjukkan bahwa Hari Ibu tidak hanya relevan sebagai simbol kasih, tetapi juga sebagai pengingat peran strategis perempuan dalam membangun sistem sosial yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Wakaf sebagai Warisan Nilai Keibuan
Jika warisan sering dimaknai sebagai harta yang dibagi, maka wakaf adalah warisan nilai. Seorang ibu mewariskan keteladanan, etos kerja, dan kepedulian sosial. Wakaf memperpanjang warisan itu dalam bentuk sistem yang terkelola: dari wakaf pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa, wakaf kesehatan untuk menjaga kehidupan, hingga wakaf ekonomi produktif untuk mengangkat martabat kaum lemah.
Refleksi Hari Ibu
Memaknai Hari Ibu melalui perspektif wakaf mengajak kita melampaui ucapan terima kasih simbolik. Ia menantang kita untuk meneladani nilai keibuan dalam tindakan nyata: memberi dengan ikhlas, berpikir jangka panjang, dan memastikan manfaat bagi generasi mendatang.
Hari Ibu dan wakaf bertemu pada satu titik yang sama: pengabdian tanpa pamrih demi keberlanjutan kehidupan. Ketika semangat keibuan diwujudkan dalam gerakan wakaf, maka cinta tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga diwariskan untuk masa depan umat dan bangsa.